Ksatria Indonesia

Menjadi ksatria Indonesia adalah harapan tersendiri sebagai anak bangsa. Untuk menjadi ksatria unggulan, bukan sekedar kepemilikan ilmu tanpa tertandingi yang menjadi andalannya. Begitu juga, bukan pula materi harta yang melimpah sebagai landasannya. Tapi yang tak kalah pentingnya adalah karakter diri yang menjadi suri keteladanan dan kepemimpinan, merupakan harga mutlak yang harus dimiliki. Setiap ksatria yang hebat dalam sejarah kepemimpinannya harus mampu meninggalkan legasi dari sebuah proses etika, etik dan nilai. Tanpa itu semua, dia hanyalah arang dan abu saja, yang mudah hilang tanpa bekas dan cerita.

Potret dari premis renungan jiwa itulah sengaja diabadikan dalam bentuk goresan – goresan tinta kanvas di bingkai lukisan oleh seorang pelukis spesialis wayang bernama ammar abdillah, dari desa Tayu Kabupaten Pati – Jawa Tengah.

Dipilihnya seorang tokoh pewayangan Arjuna sebagai sang ksatria, bagi pelukis, memiliki alasan yang kuat, dikarenakan diantara para Pandawa, Arjuna memiliki segala – galanya. Maka dari itu, sang pelukis berharap agar para ksatria Indonesia memiliki karakter Arjuna, yang pemberani, memiliki integritas dan kerendahan hati.

Kembali melihat lukisan tersebut, pelukis mengajak kita dalam mempersepsikan, bahwa merah putih adalah tumpah darah kita, rumah kita dan dimana kita berada saat ini. Keberadaan merah putih bukan sekedar perpaduan dua kain warna yang dijahit dengan gemulainya jari jemari tangan. Tapi ada sebuah filosofi makna dan sejarah tersendiri yang sangat dalam, dan tersimpan dalam kitab Sutasoma dan Negara Kertagama.

Dibalik warna merah putih tersebut ada muka keanekaragaman masyarakatnya, seperti Semar, Petruk, Garang dan Bagong. Diantara mereka, memiliki karakter yang berbeda – beda dan perbedaan tersebut justru bukan menjadikan menciptakan perpecahan tapi sesungguhnya saling mendukung dan menguatkan.

Sosok Gareng dan Bagong, adalah manusia biasa yang kritis terhadap berbagai keadaan yang dirasakan tidak sesuai dengan norma dan tatanan kehidupan. Disaat yang sama, dialektika kritis Gareng dan jok – jok vulgar Bagong mampu menyemai dinamika perubahan sosial. Begitu juga dengan si Petruk yang terkadang arogan dalam sikap ketengilannya dan noraknya, dia memiliki mimpi dan imaginasi yang kelewatan. Seperti dikisahkan dalam si Petruk jadi Ratu. Ini semua menjadi karakter – karakter masyarakat merah putih.

Namun demikian, ditengah kerangka masyarakat merah putih itu ada sosok Semar yang memiliki sifat katalisator dan dinamisator dalam menjaga kestabilan masyarakat, agar terus terjaga dan damai. Bahkan, menurut sang Semar, kejenakaan dalam bermasyarakat adalah sebuah realitas, tapi itu adalah nilai. Nilai berdemokrasi dan nilai berbudaya. Melihat ini semua, sifat Semar lebih akomodatif, untuk mendengar, mensintesiskan berbagai anasir – anasir dinamika kehidupan masyarakat.

Dalam segala hal, Semar sendiri anti dalam keseragaman pemikiran atau mengkultuskan satu teori pemikiran kebenaran yang sering disebut demagog. Tipelogi Semar itu ada dalam dimensi masyarakat bernama Indonesia.

Lalu, bagaimana menjadi ksatria Indonesia seperti Arjuna tersebut?

Menjadi ksatria Indonesia harus mampu melihat ke bawah dari berbagai perspektif baik integratif dan akademik. Untuk itu sebagai ksatria harus mampu mengimplementasikan aktualisasi dirinya dalam berbagai aspek ditengah kebhinnekaan yang dimiliki oleh Indonesia. Menjadi ksatria harus mampu mencerna secara holistik realitas sosial yang ada. Dia harus mampu membaca tanda – tanda jaman dan berbuat secara adil sesuai dengan kekuasaan yang dimilikinya.

Agar ksatria itu mampu berbuat demikian, di dalam dirinya harus ada rasa yang menyelimuti jiwa dan raganya. Rasa itu bisa terbentuk, apabila pada dirinya ada spiritualitas, tanpa itu semua tujuan sang ksatria sulit untuk terwujudnya.

Untuk mengabstrakkan rasa, sengaja di lukisan itu ada simbolisasi para dewi – dewi yang menginspirasikan tentang watak cinta, kasih sayang. Dengan rasa itulah, sang ksatria akan mampu mengejawantahkan nilai – nilai Ketuhanan di samping harus bersifat bijak atas segala keputusannya ditengah harmonisasi masyarakat yang jenaka.

Sungguh impresif sekali karya rupa ini sehingga mampu menyemai realitas kehidupan yang ada dan menerabas nurani kita.

Jumat, 4 Januari 2019

Agus Yuliawan

Anda mungkin menyukai post lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *